Ikhlas sebagai Syarat Diterimanya Umrah
Sesungguhnya ibadah umrah yang diterima oleh Allah ﷻ adalah ibadah yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ. Sebesar apa pun pengorbanan harta, tenaga, dan waktu yang dikeluarkan seseorang, semua itu tidak bernilai di sisi Allah apabila tidak dibangun di atas keikhlasan.
Ibadah yang dilakukan bukan karena Allah, melainkan karena ingin dipuji, dikenal, atau mendapatkan pengakuan manusia, maka amal tersebut terancam tertolak. Hal ini berlaku pada seluruh ibadah, termasuk umrah, yang justru sangat rawan tercampuri niat duniawi.
Bentuk-Bentuk yang Merusak Keikhlasan dalam Umrah
Ada beberapa perbuatan yang berpotensi mengotori niat saat melaksanakan umrah, di antaranya:
- Umrah dengan niat pencitraan, apalagi untuk kepentingan politik atau popularitas.
- Memamerkan kemampuan finansial melalui pilihan travel mewah dengan niat kesombongan.
- Terlalu sibuk berswafoto dan mempublikasikannya di media sosial.
- Mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia.
Padahal ketika bertalbiyah, seorang jamaah mengucapkan “Labbaik Allahumma Labbaik”, sebuah ikrar bahwa dirinya datang hanya untuk memenuhi panggilan Allah, tanpa menyekutukan-Nya dengan tujuan apa pun.
Meneladani Nabi ﷺ dalam Ibadah Umrah
Syarat kedua diterimanya amal adalah meneladani Rasulullah ﷺ. Dalam ibadah umrah, terdapat banyak ritual yang hikmahnya tidak selalu dapat dicerna oleh akal manusia. Oleh karena itu, sikap seorang Muslim adalah tunduk dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ tanpa menambah atau mengurangi.
Para sahabat, seperti Umar bin Khattab, memberikan teladan luar biasa dalam hal ini. Ketika mencium Hajar Aswad, beliau menegaskan bahwa hal tersebut dilakukan semata-mata karena mengikuti Rasulullah ﷺ, bukan karena batu tersebut memberi manfaat atau mudarat.
Prinsip ini menunjukkan bahwa inti ibadah adalah ittiba’ (mengikuti sunnah), bukan sekadar mengikuti logika atau perasaan pribadi.
Pentingnya Memilih Teman dalam Perjalanan Umrah
Teman perjalanan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang akan mengikuti agama dan kebiasaan sahabatnya. Oleh karena itu, memilih teman yang shalih, gemar beribadah, menjaga lisan, dan mengingatkan kepada akhirat adalah bagian dari ikhtiar menjaga kualitas umrah.
Sebaliknya, teman yang gemar membicarakan hal sia-sia, ghibah, atau menyibukkan diri dengan urusan dunia dapat mengurangi kekhusyukan ibadah, padahal waktu di Tanah Suci sangat terbatas.
Hakikat Talbiyah “Labbaik Allahumma Labbaik”
Talbiyah adalah dzikir agung yang hanya disyariatkan bagi orang yang sedang berihram. Kalimat talbiyah mengandung makna tauhid, ketundukan, cinta, dan kepasrahan total kepada Allah ﷻ.
Menurut penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah, talbiyah mencerminkan penghambaan yang sempurna, pengakuan bahwa segala pujian, kenikmatan, dan kepemilikan hanyalah milik Allah semata.
Karena itu, talbiyah bukan sekadar ucapan lisan, melainkan deklarasi spiritual bahwa seorang hamba meninggalkan dunia dan menghadap Allah dengan hati yang ikhlas.
Talbiyah sebagai Pengingat Keikhlasan
Talbiyah disyariatkan untuk diucapkan dengan suara keras bagi laki-laki dan lirih bagi wanita. Semakin sering seorang jamaah bertalbiyah, semakin kuat pula ingatan bahwa tujuan kedatangannya ke Tanah Suci adalah semata-mata untuk Allah.
Di antara hikmah diulang-ulangnya talbiyah adalah agar jamaah terus menjaga keikhlasan, menjauh dari riya’, dan memurnikan niat sepanjang perjalanan ibadah umrah dan haji.
Penutup
Umrah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati menuju Allah ﷻ. Keikhlasan, ittiba’ kepada sunnah Nabi ﷺ, memilih lingkungan yang baik, serta menghayati talbiyah adalah kunci agar umrah menjadi ibadah yang bernilai dan diterima di sisi Allah. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beribadah.

